Belajar Statistika

Sabtu, 20 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 10 Usia Dini

Bismillah

Untuk usia dini seperti Caca, yang perlu kami, orang tua, lakukan adalah merekatkan bonding dengan Caca untuk membuat dia bisa sendiri membedakan antara laki-laki dan perempuan. Yaitu berdasarkan perbedaan Abi dan mbu nya.

Perbedaan yang sudah bisa Caca identifikasi antara lain :
⏩ Jenggot
⏩ Jilbab
⏩ Sholat di masjid / di rumah
⏩ Rambut panjang / pendek
⏩ Celana / rok

Perbedaan dari peran :
⏩ Abi bekerja di luar rumah
⏩ Mbu memasak Snack dan sarapan
⏩ Mbu dan Caca ijin Abi kalau mau pergi
⏩ Abi memberi nafkah untuk keluarga
⏩ Mbu hamil adik bayi, melahirkan, dan menyusui
⏩ Abi membersihkan rumah
⏩ Mbu menemani dan membuatkan media untuk Caca belajar

Semoga bisa jadi bekal ya nak..

Fitrah Seksualitas Day 9 Mainan Anak

Bismillah

Beberapa hari yang lalu ada diskusi menarik ke kelas bunsay, yaitu tentang mainan anak. Sampai kapan mainan anak itu genderless? Dan apakah benar mainan anak itu genderless?

Sayapun tertarik mencari tahu, dan sampai pada resume penjelasan ibu Elly Risman tentang mainan anak, yang intinya :

Mainan anak genderless sampai usia 6 tahun
Sampai usia ini, anak bebas bermain apa saja. Anak perempuan bermain mobil-mobilan atau robot, anak laki-laki bermain make up, dan sebagainya. Hanya, yang ditekankan adalah orang tua tetap melakukan pendampingan dan memberikan penjelasan pada anak. Misalnya saat anak laki bermain make up, sambil memainkan nya, ibu dan ayah sambil menjelaskan bahwa yang boleh memakai make up itu perempuan, tidak ada laki-laki yang memakai make up keluar rumah. Itu yang dinamakan menyerupai perempuan. Dan sebagainya.

Begitu penjelasan ibu Elly tentang mainan anak. 👍

Jumat, 19 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 8 Praktek 1

Bismillah



Setelah kemarin berniat praktek sedikit demi sedikit ke Caca, alhamdulilah dengan ijin Allah Nemu game lucu di play store. Judulnya perbedaan jenis kelamin. Di game ini goal nya adalah membedakan laki-laki dan perempuan. Dimulai dari anak disuruh menyusun bagian tubuh (kepala dan badan), kemudian memakaikan pakaian yang cocok, dan aksesoris dll.

Game ini cocok untuk pemula, bisa juga evaluasi sejauh mana pemahaman anak tentang perbedaan fisik dan pakaian antara laki-laki dan perempuan. Sebelum kemudian bisa beranjak ke peran laki-laki dan perempuan.

Selasa, 16 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 7 Plan untuk si Kecil

Bismillah

Ini sebenarnya sudah hari ke 11 dari tantangan 10 hari, tapi saya baru bikin hari ke 7 hehe. Entahlah, saya bingung juga mau report apa beberapa hari ini. Tapi yang belum tertuang sepertinya rencana untuk anak . Bagaimana rencana memelihara dan membangun fitrah seksualitasnya yang sesuai tuntunan Sunnah.

Seperti yang dijelaskan oleh kelompok 10 di kelas bunda sayang Mr.jatsela,

*🔖 Urgensi Fitrah Seksualitas*

*👣Melestarikan Keturunan.*
_pemahaman yang benar ttg fitrah seksualitas akan mengantarkan manusia, baik laki-laki ataupun perempuan pada maksud penciptaan, salah satunya adalah diciptakan sebagai pasangan hidup guna meraih ketenangan hati dan rasa kasih sayang(ArRum 21), yang akan melahirkan generasi penerus peradaban._

Tentunya kita tidak akan menemukan generasi penerus jika pasangan tersebut terdiri LsL(lelaki suka lelaki) atau perempuan dg perempuan seperti saat ini.

*👣 Mempersiapkan anak menerima beban taklif dari pencipta.*
_Saat anak sudah bisa diajak berpikir dan mengalami masa baligh, maka dosa sudah ditanggung oleh mereka sendiri. Bagaimana hak kewajiban sebagai lelaki saat balig, calon suami yang memimpin istri, bapak memimpin keluarga , kakak yg akan menjadi wali bagi adiknya._

_Sementara perempuan juga memiliki tugas sama, sbg anak, wanita, istri, ibu di ranah domestik. Semua tugas tsb akan dimintai tanggung jawab oleh pencipta. Maka perlu untuk menyiapkan mereka agar *mandiri dan siap memimpin dan dipimpin*._

*👣 Mampu mengenali alat vital dan merawatnya.*

*👣Memilih dg siapa berteman*

Untuk usia dini (balita) seperti Caca, sepertinya tahap yang tepat pertama adalah membedakan jenis kelamin.

Dari yang dekat dulu, yaitu membedakan bahwa mbu adalah perempuan dan Abi laki-laki. Nenek perempuan, dan kakek laki-laki. Tante adalah perempuan dan om laki-laki. Setelah itu ciri fisik, misalnya :
📝 Mbu, nenek, Tante memakai rok dan jilbab
📝 Kakek, Abi, om memakai celana
📝 Kakek, Abi, om sholat di masjid
📝 Mbu, nenek, Tante sholat di rumah
📝 Dsb

Kamis, 11 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 6 Salah Satu Akibat

Bismillah

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca suatu tulisan yang bagus sekali. Dan Alhamdulillah kemarin saya membacanya lagi, dan langsung saya kaitkan dengan materi 11 di kelas bunsay. Ini, menurut hemat saya adalah salah satu akibat dari ketidak tuntasan seseorang dalam memelihara dan menumbuhkan fitrah seksualitasnya. Kurangnya ilmu seseorang tentang peran gender yang sebenarnya. Baik secara ilmu agama, maupun sosial.

Seriiing sekali kita jumpai kejadian seperti ini. Tapi saking seringnya, sampai terjadi pemakluman dan pewajaran situasi. Padahal, Subhanallah sungguh ini harus kita hentikan. Kata rantai negatif ini harus kita hentikan sampai disini.

Terutama untuk kita yang sudah diijinkan Allah mendapatkan ilmu tentang peran gender dan fitrah seksualitas manusia dan keluarga.

Ceritanya saya paste disini..

Dulu saat Faiz bayi saya harus bekerja di 2 tempat, lalu ada orang komentar,
"Wah kasihan yaa bayinya harus dititipkan gara-gara ibunya kerja!"
Tahun 2017 Faiz baru masuk SD jadi saya resign hanya beraktivitas di rumah, lalu ada orang komentar,
"Wah sayang yaa ijazahnya dulu susah-susah sekolah sekarang hanya di rumah!"
Demi Allah ini yang berkomentar orang yang SAMA! Nanti kalau sekolah spesialis mungkin saya harus siap-siap jika beredar tulisan viral "kenalanku dokter" #ehh 😂
Mungkin kalian tidak percaya. Tapi di dunia nyata saya memang mengalami sendiri menjadi target nyinyiran orang lain dalam perang prokontra ibu bekerja dan ibu di rumah. Kerja salah. Tidak kerja salah. Itu kalau tujuan hidup cuma buat dapat pengakuan orang lain. Tidak akan bisa kita menyenangkan semua manusia 😊
Alhamdulillah tujuan hidupku itu untuk memenuhi tujuan penciptaan Rabb-ku. Bukan untuk sembah puja-puji semu dari manusia. Saya bisa tidak marah lho dapat komentar nyinyir begini di dunia nyata. Beneran. Digituin saya bisa senyum diam. Tidak dendam. Paling cuma nginget aja selamanya #ehh 😅
Dulu LDR saat suami tugas handle proyek di pedalaman juga orang komen kenapa istrinya (saya) tidak ikut. Tanpa mereka mencari tahu situasi pekerjaan disana. Anehnya kenapa bukan memilih pembulian subjek komen ditekankan ke suaminya tidak kerja disini saja. Kan harusnya lebih manusiawi bagi keluarga itu. Kenapa? 😂
Woman As A Target Of Bullying
Yaa wanita memang rentan menjadi target. Dicari-cari kesalahan padanya untuk dibuli hingga hancur tak berdaya. Dikatakan jika ada seorang pria dan seorang wanita memiliki hal yang "salah" secara fisik maupun perilaku di mata orang lain, maka kemungkinan besar pria tersebut akan lolos dari komentar. Sementara sang wanita akan habis dicecar.
Kecenderungan ini terjadi dimana-mana pada segala situasi yang biasanya kurang menguntungkan. Sejak masa kanak-kanak, masa ABG pencarian jati diri, cara melahirkan, cara memberi makan anak, hingga setiap pilihan dalam hidup setelah dewasa.
Hidup saya penuh anugrah kemudahan. Saya harus mensyukurinya. Saya mensyukurinya dengan beri pengabdian bagi sesama.
Lagipula pembulian nyinyir orang yang saya terima tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dialami wanita lain. Saya pernah beberapa kali bertemu wanita single fighter dan single mother. Subhanallah... betapa nyinyir pembulian orang pada para wanita single yang sedang berjuang menjaga kehormatan dirinya ini.
Para perempuan dewasa yang memilih jomblo meski untuk menjaga kehormatan itu dahsyat sekali pembulian yang diterimanya. Mulai dari dikritik terlalu senang bekerja padahal pekerjaan halal, terlalu rajin sekolah sampai gak sempat pacaran hingga dituduh punya kriteria terlalu muluk. Padahal yaa karena belum ketemu jodohnya saja. Sementara tentu dia harus bekerja untuk membiayai hidupnya juga melakukan kegiatan positif ketika berikhtiar bertemu sang jodoh hidup.
Apalagi para janda. Di mata orang lain menjadi janda itu serba salah. Cerai salah, memilih bertahan juga salah. Dalam setiap kegagalan berumah tangga pasti wanita yang salah! Bahkan meski disitu suami yang selingkuh! 😢
Padahal banyak para janda berjuang hidup baik-baik menjadi orang baik. Tetap saja dipandang negatif. Disakiti dengan komentar yang merendahkan. Tanpa mereka mau tahu perjuangan dibalik kisahnya. Ada seorang ibu tunggal yang dinyinyiri saat dia harus bekerja di luar rumah. Padahal dia memakai busana syar'i dengan pekerjaan halal. Padahal dia harus menghidupi diri dan anaknya. Sementara mantan suami tidak bisa diandalkan.
Ada seorang wanita yang harus berjuang sendirian menjalani SC emergency. Suaminya kabur bersama selingkuhannya. Berat sekali harus hadapi severe engorgement hingga mastitis, bayi jaundice bahkan kemudian ibu mengalami gangguan produksi ASI sebab tekanan hidup luar biasa. Meskipun demikian semangat menyusui bayinya begitu luar biasa. Dia memilih relaktasi saat bayinya harus catch up growth.
Single Mother
Beberapa hari yang lalu saya menemukan gambar ini di akun instagram @amandaoleander. Tampak seorang wanita sedang menyusui bayi sementara kedua anaknya makan di atas punggung. Sementara itu terlihat baju-baju serta barang berantakan di sekitarnya.
Pesan gambar ini sangat mendalam. Karikatur ini digambarkannya untuk mewakili perjuangan para ibu yang harus melakukan semua tanggung jawab di rumah. Bisa para ibu yang ditinggal suami bekerja jauh sepanjang hari atau cerai berpisah dari suaminya. Disini terlihat seorang ibu yang harus menangani semua sendiri. Terkadang mereka juga menjadi tulang punggung supaya keluarga tetap makan. Para ibu tunggal ini berjuang memberikan kenyamanan bagi keluarga meski terkadang dengan menempatkan kenyamanan dirinya sendiri sebagai prioritas terakhir.
Jadi masih mau melontarkan komentar negatif ke perjuangan orang lain? Apalagi yang sama-sama perempuan! Saling bantu memberi kemudahan juga support yang membangun akan lebih membahagiakan. Tebarkan cinta supaya dunia lebih indah ☺
Masing-masing kita punya ujian kehidupan masing-masing. Jangan tambah kepahitan hidupmu dengan bersikap pahit ke orang lain. Pilihlah sepatumu sendiri, tapi jangan paksa orang lain pakai sepatumu itu. Lalu berjalanlah di muka bumi ini untuk menebar kebaikan meringankan beban hidup sesama...
Allohu a'lam bishowab
Annisa Karnadi
#opiniAnnisa #renungAnnisa


Selasa, 09 Januari 2018

Fitrah Seksual Day 5 Contoh Kasus

Bismillah,

Ada pertanyaan menarik kemarin saat kelompok kami presentasi.

2⃣ Mnrt kel.4 bgmn mnjlskn kpd anak2 ttg tayangan d media yg menampilkn org laki2 yg brperilaku ato brpakaian sbg perempuan?

Kemudian saya jawab,

Yang pertama dilakukan, matikan TV nya, kemudian kita jelaskan kenapa saat ada tayangan seperti itu harus dimatikan.
Yaitu, perilaku itu bukanlah sesuatu yang baik.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).

Seseorang harus berperan sesuai gender nya, sesuai fitrahnya masing-masing. Laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki berarti sudah melanggar fitrah seksualitas nya sesuai apa yang sudah diciptakan Allah. Sembari dijelaskan, diajak, dan diberi contoh bagaimana seharusnya anak berperilaku dan berpikir sesuai identitas seksualnya. Seperti teladan yang sudah diberikan oleh Rasulullah, para sahabat dan Thabi'in, serta pemenuhan peran keayahan dan kebundaan sehari-hari.

Dan satu lagi

3⃣ Cantik banget presentasi klmpk IV..
Mau nanya, alasan anak 7-10 tahun dipisah tidur apa aja ya? Kadangkala ada keluarga yang mungkin karena keterbatasan menyebabkan anak2 mereka tidur bersama dalam satu ruangan. Kira kira apa yang akan terjadi dengan perkembangan fitrah seksualitasnya? Mks

Dan saya jawab (yang kemudian di post oleh mbak dhaniar)

Tidur terpisah dimulai usia 7 bisa dijadikan latihan sebelum benar-benar memisahkan saat usia baligh.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintah umatnya untuk memisah tempat tidur anak-anak mereka apabila usia mereka telah genap sepuluh tahun. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka pada tempat tidurnya.” HR. Abu Dawud no. 495, dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Adapun yang pernah saya baca, anak laki-laki yang berusia di bawah sepuluh tahun masih boleh tidur bersama ibu atau saudara perempuannya di tempat tidurnya, karena adanya kebutuhan untuk menjaganya dan mencegah bahaya darinya bersamaan dengan aman dari fitnah. Ketika aman dari fitnah, mereka boleh tidur sama-sama di satu tempat/kamar walaupun sudah mencapai usia baligh, hanya saja masing-masing tidur di kasurnya sendiri. Allohua'lam

Menurut saya, intinya semua dikembalikan ke aturan agama. Bukan pandangan sosial, atau normal masyarakat. Diatas semua itu, selama ada dalil melarang, maka ayo kita tinggalkan. Dan mari himbau sekitar kita untuk meninggalkan (termasuk amar Maruf nahi Munkar) dan sebaliknya, apabila ada dalil yang memerintah, harus kita kerjakan. Titik. End of story'. Aturan masyarakat, pandangan orang dll itu tidak bisa dijadikan standar menurut saya. Allohua'lam.

Senin, 08 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 4 Tantangan Gender Masa Kini

Bismillah,

Hari ini kelompok saya kebagian presentasi. Alhamdulillah kondisi kelompok sangat menyenangkan. Diskusi nya hidup dan membangun. Saling berbagi ilmu dan Skill yang keren2. Saya kebagian materi 2 tentang tantangan gender masa kini.

Beginilah isinya..

Tantangan Gender Jaman Sekarang

*Dalam Keluarga*

🍀 Kurangnya Ilmu ayah dan bunda dalam memenuhi peran keayahan dan kebundaan
↪ Dampaknya, konsep yang samar pada anak tentang gender role stereotype
_Yang bisa terjadi_ :
• anak laki-laki ketika sudah menjadi suami dan ayah, mengira tugas/peran nya hanya sebagai pencari nafkah saja, tanpa menunaikan peran keayahan nya
• atau anak perempuan yang ketika sudah berkeluarga mengira perannya adalah sebagai pemikul semua pekerjaan domestik dalam rumah tanpa harus bersinergi dengan suami

🍀 Belum tuntasnya penguatan konsep gender yang diberikan orang tua pada anak dalam perilaku keseharian
↪ Dampaknya, anak bisa memiliki aktivitas yang kurang sesuai dengan gender nya
_Yang bisa terjadi_ :
• anak laki-laki berpakaian seperti anak perempuan, atau anak perempuan berpakaian seperti anak laki-laki
• anak laki-laki tidak merasa wajib untuk sholat 5 waktu di masjid

*Dalam Masyarakat*

🍀 Penuntutan kesetaraan gender yang kurang sesuai dengan porsinya
↪ Dampaknya, semakin menjauhkan peran ibu dalam memenuhi peran kebundaan
_yang bisa terjadi_ :
• ibu-ibu yang terlalu mengejar prestasi diluar rumah dan menjadi abai pada peran kebundaan nya
(Opini : padahal tidak apa-apa untuk ibu-ibu bekerja atau berkarya dan berkegiatan selama masih menjaga perannya sebagai ibu dan istri, dan kalau muslimah tetap menjaga Izzah nya sebagai wanita muslimah yang mulia)

🍀Upaya pergeseran opini tentang fitrah seksualitas
↪ Dampaknya, ayah ibu dan anak tidak menunaikan, memelihara, dan memupuk fitrah seksualitas nya dengan benar
_yang bisa terjadi_ :
• penyebaran ideologi bahwa LGTB termasuk fitrah seksualitas manusia
• pandangan negatif sebagian masyarakat tentang stay at home mom yang memiliki gelar pendidikan yang tinggi

*Dalam dunia hiburan*

🍀 Pemakluman pertukaran peran laki-laki dan perempuan baik di media TV maupun live event
↪ Yaitu laki-laki yang berdandan dan bertingkah laku seperti perempuan (untuk lucu-lucuan ataupun tidak) dan sebaliknya
_yang bisa terjadi_ :
• anak-anak akan semakin sering menonton laki-laki yang memakai baju dan bertingkah laku seperti perempuan yang akhirnya menjadi sesuatu yang wajar di kehidupan saat ini
• mulai diterimanya perilaku cewek tomboy dan cowok melambai di dalam masyarakat tanpa merasa ada yang aneh dan salah (sehingga tidak ada yang merasa perlu menasehati mereka)

Alhamdulillah membuat ini bikin saya semakin termotivasi untuk memelihara dan memupuk fitrah seksualitas anak sejak dini. Alhamdulillah anak saya juga masih dini usianya hehe. Semoga belum terlambat. Dan kembali diskusi bersama suami tentang peran keayahan dan kebundaan di keluarga kami. Karena imbasnya bukan hanya ke orang tua, tapi ke anak juga..

Allohul Musta'an

Minggu, 07 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 3 Sex? Gender?

Bismillah

Menarik sekali pembahasan kelompok 3 malam ini yang memfokuskan topik bahasan pada perbedaan sex dan gender. Pemaparan nya interaktif dan membuat peserta diskusi ikut aktif dalam diskusi.

Yang saya tangkap, intinya sex adalah jenis kelamin, dan gender adalah peran dari masing2 jenis kelamin. Peran laki-laki dan perempuan (tidak ada selain itu).

Saya sangat senang saat diawal diskusi, penampil menyajikan sebuah video yang berisi anak laki-laki yang memasak, membantu ibu, mencuci piring, dan kegiatan-kegiatan lain yang sepertinya mereka ingin menyampaikan bahwa pekerjaan ini bukan milik perempuan saja loh, tapi laki-laki juga. Kalau bahasa saya, lifeskill itu genderless (meskipun kesimpulan saya ini kurang mendapat sambutan dan mbak penampil, mungkin kurang cocok?).

Saya sebenarnya juga berharap akan ada scene anak perempuan yang bermain mobil-mobilan, membantu ayah memasang lampu, atau kegiatan-kegiatan lain yang selama ini terkesan cowok banget. Tapi mungkin sulit mendapatkan gambarnya? Atau saya yang kurang teliti? Hehe

Sebenarnya saya sudah menduga pembahasan akan (sedikit banyak) mengarah ke feminisme dan yang saya takutkan, feminisme yang diangkat disini adalah feminisme versi kebanyakan, yang setau saya melenceng dari feminisme yang sebenarnya.

Misalnya, orang kebanyakan mengira feminisme adalah sekumpulan perempuan yang ini disetarakan dengan laki-laki dalam segala hal. Padahal setau saya, tuntutan kesetaraan itu dititik beratkan pada edukasi dan pekerjaan. Pekerjaan yang dimaksud bukan perempuan harus melakukan pekerjaan otot seperti yang biasanya hanya dilakukan laki-laki (meskipun sebenarnya bisa juga sih), tapi keadilan fee sesuai Skill dan pekerjaan yang dilakukan. Faktanya, dalam 1 profesi pekerjaan, banyak dijumpai gaji pegawai laki-laki dan perempuan berbeda, hanya karena mereka laki-laki, atau hanya karena mereka perempuan.

Atau hak mendapatkan pendidikan yang layak. Di beberapa negara atau daerah, banyak ditemukan setelah lulus SD atau SMP, pelajar perempuan kembali ke rumah atau menikah. Karena tidak perlu pendidikan tinggi, toh nantinya mereka kembali ke dapur lagi. Betapa mirisnya keadaan ini kan? Nah, hal-hal semacam inilah yang menjadi concern kaum feminis setau saya.

Bukan seperti yang digembar-gemborkan, kalau laki-laki bisa jadi imam, perempuan juga harus jadi imam! Hehehe

Tapi well alhamdullilah menyenangkan sekali diskusi malam ini. Dan semoga makin memotivasi kita untuk memelihara dan memupuk fitrah seksualitas anak2 sesuai tahapan usianya.

Sabtu, 06 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 2 Merangkai Konsep

Bismillah

Malam ini alhamdullilah kelompok saya mulai aktif berdiskusi, mulai meraba-raba apa yang akan kita sajikan saat presentasi. Saling tukar pikiran, dan mulai membagi tugas. Alhamdulillah awal yang menyenangkan. Saling tukar informasi itu sangat menyenangkan, selain informasi kita bertambah, kita jadi termotivasi ikut berperan aktif untuk ikut "menyumbang" entah ide entah referensi ke tim. Ya masak cuma take aja, harus take and give ya kan? Hehehe

Kita mulai membahas satu persatu topik bahasan, dan akan kita kerucutkan kemana untuk kelompok kita. Sebenarnya sudah ada bayangan, tapi masih belum ada kesepakatan. Qodarulloh yang diskusi baru tiga orang sih..

Tapiiii, dalam pencarian sehubungan dengan "give" tadi saya menemukan hal menarik di YouTube. Yaitu awareness tentang "My Body is Mine" yang disebarkan dan dibuat oleh entah lembaga entah komunitas yang bergerak di child abuse prevention program sehubungan tantangan gender masa kini yaitu kejahatan dan penyimpangan seksual.

Bagus sekali cara penyampaian mereka. Saya ingin membuat media lain untuk Caca yang seperti itu, tapi dengan cara saya sendiri dan bahasa yang bisa dimengerti Caca. Intinya, memberikan pengetahuan tentang bagian tubuhnya Caca, bagian mana yang boleh ditunjukkan dan bisa menjadi cara menunjukan kasih sayang dari orang terdekat (mahrom), dan bagian mana yang privat. Disana dijelaskan juga apa yang boleh dan tidak boleh dirahasiakan dari orang tua. Apa itu secret, dan apa saja yang kalau orang lain bilang itu "secret" kita tidak boleh menurutinya.

Termasuk contoh situasi yang mengharuskan anak untuk berteriak, menangis, berlari, dan melapor.

Alhamdulillah banyak yang saya dapatkan dari "belajar mandiri" di Game level 11 ini 😊

Jumat, 05 Januari 2018

Fitrah Seksualitas Day 1 Review Materi

Bismillah

Review Materi dan Hasil Observasi Diskusi Kelompok 1

Pengertian fitrah seksualitas rujukannya tetap sama, dari postingan atau dari bukunya Harry Santosa. Yaitu :

Seksualitas adalah bagaimana seseorang bersikap, berfikir, bertindak sesuai dengan gendernya.

Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seseorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan. Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.

Secara fitrah seksualitas seseorang hanya dilahirkan sebagai lelaki atau sebagai perempuan, tidak ada jenis kelamin lainnya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa homo atau lesbian atau lainnya adalah bawaan lahir, itu sesungguhnya ia telah menyimpang fitrahnya.

Untuk penyimpangan seksualitas kurang dibahas di kelompok 1. Penekanannya saya rasa di peran ayah dan bunda dari keluarga sebagai pondasi peradaban. Dan saya berterima kasih sekali pada kelompok 1 yang memberikan gambar tentang fitrah peran ayah dan bunda di akhir presentasi. Bisa langsung saya forward ke suami 😊.

Yang menarik menurut saya berikutnya adalah pertanyaan mbak fasil Lina tentang bagaimana fitrah seksualitas perlu dibangkitkan? Sedangkan dalam referensi lain, fitrah seksualitas itu sudah ada dari sejak kita diciptakan. Tapi jawaban kelompok 1 kembali merujuk kepada referensi awal mereka yaitu buku Harry Santosa, bahwa fitrah seksualitas adalah benih yang perlu selalu dipupuk, disiram, dan dirawat oleh orang tuanya.